Gangguan saluran cerna berupa konstipasi, atau yang dalam bahasa awam disebut sembelit, merupakan masalah yang kerap dialami banyak orang sejak dahulu. Saking banyaknya masalah sembelit ini, di masyarakat timbul berbagai mitos yang dipercaya secara luas meskipun kebenaran ilmiahnya tidak jelas.

...Untuk membahas berbagai mitos tersebut secara ilmiah, empat pakar ternama dari empat negara, yaitu Stefan A Müller-Lissner (Berlin-Jerman), Michael A. Kamm (London, Inggris), Carmelo Scarpignato (Parma, Italia), dan Arnold Wald (Pittsburgh, Amerika Serikat) bersama-sama melakukan ulasan ilmiah terhadap studi-studi yang terkait. Sebagai hasilnya, telah dirangkum dalam artikel yang dipublikasikan dalam American Journal of Gastroenterology pada tahun 2005. Publikasi di jurnal kedokteran terpandang ini, mengungkapkan fakta yang ada dibalik berbagai mitos konstipasi selama ini. Mitos yang dibahas antara lain mengenai terjadinya keracunan akibat konstipasi, kurangnya asupan serat dan cairan sebagai penyebab konstipasi; dan juga tentang kekhawatiran efek negatif penggunaan obat laksatif.

Benarkah kotoran yang tidak dikeluarkan akan menjadi racun?
...Mitos yang paling lama, adalah tentang terjadinya autointoksikasi atau keracunan akibat keracunan akibat kotoran yang tidak segera dikeluarkan dari dalam usus besar. Mitos ini bahkan sudah ada sejak jaman 16 SM (Sebelum Masehi) yaitu dalam papirus farmasi di Mesir. Di era abad 20, mitos ini diperkuat oleh pendapat Sir William Abuthnot lane, yang merupakan ahli bedah di London. Namun bagaimana sesungguhnya? Stefan A Müller-Lissner dkk menegaskan bahwa sesungguhnya tidak pernah ada bukti adanya racun (toksin) yang diserap dari usus besar. Meskipun ada gejala yang non-spesifik, namun semua itu adalah gejala lokal, bukanlah gejala sistemik intoksikasi. Hal ini sesuai pula dengan kenyataan bahwa bila evakuasi isi usus besar berhasil dilakukan, gejala akan segera menghilang dan tidak didapatkan gejala keracunan sistemik.

Konstipasi disebabkan kurangnya asupan serat?
...Mitos yang juga sudah lama sekali diyakini kebanyakan orang, adalah terjadinya konstipasi disebabkan kurangnya asupan serat makanan. Pemahaman ini akhirnya menyebabkan orang berupaya meningkatkan konsumsi serat sebagai salh satu cara utama mengatasi konstipasi. Serat makanan memang tidak diragukan lagi manfaatnya dalam meningkatkan jumlah dan frekuensi buang air besar pada orang yang sehat. Akan tetapi, kenyataan uji klinis yang pernah dilakukan mendapat kurang dari separuh penderita konstipasi yang memberi respons memuaskan dengan pemberian asupan serat makanan. Dalam ulasannya, Stefan A Müller-Lissner dkk menyatakan bahwa diet rendah serat sebaiknya tidaklah diasumsikan sebagai penyebab konstipasi kronis secara secara umum, melainkan hanya merupakan suatu faktor kontributor. Ditegaskannya pula bahwa tidak sedikit pasien dengan konstipasi berat yang justru mengalami perburukan gejala bila asupan serat diberikan berlebihan.

Dapatkah peningkatan asupan cairan mengatasi konstipasi?
...Secara teoritis, perubahan kandungan air dalam feses akan menyebabkan perubahan konsistensinya. Dari pemahaman ini akhirnya timbul pemahaman konstipasi disebabkan asupan cairan yang kurang, dan feses yang keras dapat dibuat menjadi lebih lunak dengan meningkatkan asupan cairan. Meskipun demikian berbagai studi yang dievaluasi oleh Stefan A Müller-Lissner dkk, tidak mendapatkan perbedaan konsumsi cairan yang bermakna antara kelompok yang mengalami konstipasi dan yang tidak mengalami konstipasi. Berbagai studi yang membandingkan manfaat pemberian cairan tambahan pada pasien konstipasi juga tidak menunjukkan manfaat yang nyata. Stefan A Müller-Lissner dkk menyimpulkan bahwa data yang ada tidak dapat menunjukkan secara nyata bahwa feses dapat dimanipulasi dengan memodifikasi jumlah asupan cairan. Dinyatakan pula, tidak ada bukti kuat bahwa konstipasi dapat diatasi dengan peningkatan asupan cairan, kecuali bila pasien dalam keadaan dehidrasi.

Kurang aktivitas dapat menjadi penyebab konstipasi?
...Telah lama diketahui bahwa gerakan usus dipengaruhi oleh aktifitas fisik seseorang. Seseorang dengan tingkat aktivitas fisik tinggi cenderung memiliki gerakan usus dan waktu transit yang lebih cepat. Namun, berbagai penelitian ilmiah mendapatkan bahwa kurangnya aktivitas fisik tidak menjadi satu-satunya penyebab konstipasi, melainkan disertai pula keterlibatan faktor penyerta lainnya, seperti diet dan personalitas. Pada lanjut usia, konstipasi memang berhubungan dengan penurunan aktivitas fisik, tetapi faktor penyerta seperti fungsi kognitif, medikasi, dan diet juga berperan besar. Dalam publikasinya, Stefan A Müller-Lissner dkk menegaskan, program intervensi untuk meningkatkan aktivitas fisik pada kenyataanya tidak banyak mempengaruhi fungsi pencernaan pasien konstipasi berat yang berusia muda. Meskipun demikian, pada kelompok lanjut usia hal ini mungkin membantu, tetapi harus merupakan bagian dari program rehabilitasi yang terdiri dari berbagai aspek perawatan.

Pemakaian laksatif sebagai pilihan terapi
...Untuk mengatasi masalah konstipasi, pemberian laksatif merupakan salah satu pilihan terapi yang efektif. Namun demikian, banyak pula masyarakat awam yang khawatir akan hal ini. Kekhawatiran tersebut antara lain mengenai efek samping kerusakan pada usus, terjadinya efek samping kanker, dan efek ketergantungan.
...Hal ini sesungguhnya tidaklah tepat. Penggunaan laksatif stimulan (misalnya bisacodyl) selain merupakan terapi yang efektif, juga cukup aman selama digunakan dengan cara dan dosis yang benar. Beberapa waktu yang lalu, penggunaan laksatif stimulan dikhawatirkan menyebabkan kerusakan pada usus, yang ditandai adanya perubahan warna usus besar, yang disebut melanosis coli. Kenyataannya memang melanosis coli dapat terjadi, khususnya pada penggunaan laksatif stimulan anthraquinone secara jangka panjang, namun hal ini ternyata tidak memberikan signifikansi klinis dan akan menghilang setelah pengobatan dihentikan.
...Mengenai kaitan antara penggunaan laksatif dengan kejadian kanker, juga perlu dipahami secara utuh. Kekhawatiran akan terjadinya efek memacu tumor akibat penggunaan laksatif tampaknya berasal dari hasil penelitian penggunaan laksatif anthraquinone dan phenolphtalein yang diduga berkaitan dengan peningkatan kejadian kanker. Bila lebih dicermati, penelitian ini sesungguhnya dilakukan pada hewan percobaan dan dengan dosis yang tinggi, sedangkan penelitian pada manusia tidak memberikan data apa-apa. Meski demikian, sebagai dampaknya penggunaan obat berbahan phenolphtalein dilarang oleh FDA Amerika Serikat. Kekhawatiran munculnya efek negatif ini tentunya dapat dimaklumi, sehingga tidaklah sulit dipahami bahwa para ahli kebanyakan memilih menggunakan laksatif stimulan yang terbukti efektif dan tidak memiliki sifat mencetuskan kanker, misalnya bisacodyl.

Konsensus Nasional Konstipasi
...Adanya berbagai pemahaman tentang konstipasi yang kurang tepat ini akhirnya juga mendorong Perkumulan Gastroenterologi Indonesia (PGI) untuk menyusun konsensus nasional penatalaksanaan konstipasi pada akhir Agustus 2006 di Jakarta. Konsensus menyatakan bahwa penderita perlu mendapatkan terapi komprehensif untuk mengembalikan fungsi defekasi yang fisiologis. Penanganan pasien konstipasi kronis ini terdiri dari terapi non-farmakologik dan farmakologik. Terapi non-farmakologis berupa modifikasi gaya hidup sehat, sedangkan terapi farmakologis adalah dengan pemberian obat tertentu. Obat yang digunakan dapat berupa golongan bulk laxative, laksatif osmotik (misalnya laktulosa), laksatif stimulan (misalnya bisacodyl, dan sodium picosulphate), dan ada pula golongan rektal enema (suppositoria), misalnya bisacodyl suppositoria. Terapi obat-obatan ini perlu dievaluasi selama 2-4 minggu. Konsensus juga menetapkan algoritme tatalaksana, di mana dalam aplikasi praktisnya konstipasi dengan waktu transit normal dan rendah dapat diberikan pengobatan awal berupa diet tinggi serat (sayur dan buah) disertai laksatif stimulan bisacodyl.

Oleh: Centra Communications

(Nirmala, Januari 2007)

0 comment(s)

Poskan Komentar